rakeem ghani as-sakha

Sebelum pergantian tahun 2011 ke 2012 dan menyambung postingan saya sebelumnya yaitu Februari – Maret bulan Penuh Makna  penting rasanya posting mengenai anak ke dua saya yang lahir 4 Maret 2011. Dimana setelah saya dirawat di rumah sakit Gandaria tanggal 26 Februari 2011 dan balik ke rumah kalau gak salah Rabu 2 Maret 2011 .

Uniknya dari kejadian ini adalah gak lama selang saya pulang dari rumah sakit Gandaria gak sampe seminggu balik lagi untuk nemenin istri melahirkan di rumah sakit yang sama cuma beda ruangan doang hehe..

Jumat 4 Maret 2011 istri saya sudah mulai mual2 dalam rentan waktunya setiap 15-20 menit. Singkat cerita malam kisaran jam10-an kita memastikan berangkat ke Rumah sakit tempat saya di rawat sebelumnya 🙂 . Berhubung kondisi saya belum 100% fit jadi yang nyetir opa alias mertua , menariknya ketika sudah sampai jembatan kemayotan mobil Tarunaku overheat dan gak sadar udah hampir mentok tuh jarumnya terpaksa kita berhenti di setelah apartemen pakubuwono.

Niat saya cari taksi langsung tapi istri bilang masih kuat kok gak usah stop taksi, kita beli aqua aja buat isi air radiator. Gak lama datenglah ‘malaikat’ yaitu supir taksi yang kebetulan lagi ngetem nanyain ke saya

” kenapa mas mobilnya ?” tanya si supir

“overheat mas ” jawab saya sambil mampir beli aqua botol yg gede

“ini mas ” supir taksi ngasih saya beberapa aqua botol gede  ke saya

” wah makasih banyak pak ” jawab saya sambil berjalan kembali ke mobil.

Setelah mobil sudah ademan kita lanjutkan perjalanan ke rumah sakit.

Singkat cerita lagi, setelah sesuatnya sudah ready di ruang persalinan sambil menunggu dokter Agung dateng yang kebetulan gantiin dokternya istri ku dokter Achmad yang kebetulan pagi itu mesti ke Sulawesi untuk seminar weleh weleh..ya wess pokoknya ada dokternya lah hehe..

Akhirnya anak saya lahir normal dan Alhamdullilah doa saya dikabulkan untuk mempunyai anak laki-laki yang sehat ! dan saya beri nama Rakeem Ghani As-Sakha

This is one of the best moment in 2011 !

Alhamdullilah terima kasih Ya Allah jadikanlan anak-anaku menjadi anak yang soleh solehah berbakti kepada orang tua, anak yang sukses dalam karirnya, sehat, kuat, kaya raya, hidup sederhana, ahli ibadah,  ahli syukur, ahli sedekah, banyak manfaatnya untuk orang banyak dan lingkungannya kelakk..Amieen Ya Rabb..

 

let’s attract more joy

Gampang sekali untuk merasa bahagia dan senang yaitu hanya dengan melihat anak kecil yang selalu penuh dengan suka cita. Kita bisa melihat mereka dengan bebasnya tanpa ada rasa khawatir tentang apapun, sebenarnya kitapun bisa atau berhak merasakan kebebasan, kebahagiaan pada saat ini, detik ini, every single moment !

We are free to choose worry or to choose joy, and whatever you choose will attract exactly that. Worry attracts more worry. Joy attracts more joy – Rhonda Byrne

Semua keputusan ada dikita, yuk rubah perasaan kita dengan penuh kesyukuran atas hidup, kebahagiaan saat ini, Insya Allah hidup kitapun akan banyak didatangkan kebahagiaan lain.

Let’s attract more joy

Udet

 

 

terima kasih untuk tim sedekahrombongan.com

Kemarin sempet baca sekilas di timeline twitter yaitu tentang SedekahRombongan.com, penasaran apalagi nih..akhirnya pagi ini buka webnya dan ternyata sang penggagas/pendirinya mas Saptuari yang empunya Warung Digital yang dulu sempat sharing pas seminar mas Ippho Santosa di Alam Sutera yang Alhamdullilah saya hadir.

Salah satu posting di sedekahrombongan.com yang membuat hati ini sedih, mewek, malu diri, malu hati, merasa berdosa, terinspirasi, pokoknya campur aduk yaitu  mengenai Rara anak yang berumur 5 tahun yang sebagian tubuhnya mengalami luka bakar akibat tercebur di panci mendidih ketika sedang bermain berlarian dengan teman2nya .

Mengenai detailnya saya gak bisa jelasin karena rasanya tangan, pikiran ini gak tahan membayangkan penderitaan adik Rara yang selama 3 bulan merana setiap hari dalam kesakitan  luka bakar karena tidak dapat berobat karena faktor biaya. Bayangin 3 bulan  ! adik kecil ini setiap detik merasakan kepedihan luka yang gak bisa saya bayangin.

Namun berkat team dari SedekahRombongan.com,  Minggu sore 20 November 2011, relawan #SedekahRombongan, mas Nasrudin Sani (@dhe_mangberkeliling diam-diam untuk mencari sasaran Sedekah Rombongan, sudah menjadi komitmen para Relawan Tetap #SR harus berani action sendiri ke lapangan. Singkat cerita Alhamdullilah ya Allah Adik Rara berhasil diselamatkan oleh tim SedekahRombongan dan juga berkat bantuan social media.

Terima kasih buat tim SedekahRombongan ! Banyaaak pelajaran, hikmah yang dapat saya ambil dari kisah ini  untuk terus belajar menjadi orang yang ahli dalam bersyukur dan menjadi orang yang banyak manfaatnya untuk orang banyak, untuk lingkungan sekitar.

Karena terus terang saya gak kuat hati untuk jelasin detail kisahnya, berikut kisahnya bisa klik http://sedekahrombongan.com/rombongan-36.html

Terima kasih dan salut buat team sedekahrombongan.com mas Saptuari dan tim semoga selalu diberikan kesehatan dan kemudahan dalam segala hal dan tetap terus memberi inspirasi, manfaat untuk kita semua.

Udet

to every littel good thing in life

Judul di atas merupakan tag line dari salah satu iklan minuman bir merk Cheer di Thailand. Nah dibawah ini saya temukan video commercialnya dari salah satu temen yang lagi lihat thread di kaskus tentang video iklan yang lebay bin kocak

Setelah saya liat asli emang lebay abis + kocak ! namun ada satu sisi  yang dapat saya ambil hikmahnya yaitu mengenai “kebersyukuran”.

Pas banget emang taglinenya ” To Every Littel Good Thing In Life” jenius nih tim kreatifnya. Kebanyakan memang kita kurang mensyukuri atau kurang ngeh bahwa hal-hal yang kecil yang biasa kita lakukan atau temukan sehari-hari adalah nikmat yang sangat luar biasa nikmatnya dari Tuhan.

Contoh : pulang kerja tiba dengan selamat tanpa kekurangan apapun, bisa bernafas dengan mudahnya alias gak perlu pake alat bantu, bisa berjalan, berlari, punya teman baik, keluarga sehat, punya rumah untuk berlindung dari hujan dan matahari walaupun masih kontrakan, cukup makan, kulkas ada isinya, dan masih bunyaakk lagi hal-hal kecil mungkin kita anggap sepele namun sesungguhnya hal tersebut patut kita syukuri.

Demikian semoga bermanfaat,

Udet

noted: ini bukan posting berbayar 🙂

guruku dari perkebunan teh cikoneng

 

DAAI TV always inspire me ! ini bukan iklan atau bantuin promosi ya, tapi memang DAAI TV merupakan salah satu TV favorit saya karena selalu positif isinya baik itu berita, liputan, gak ada gosip, pokoknya positif. Kalau semua TV Indonesia kaya gini saya yakin Indonesia cepat atau lambat tanpa kita sadari akan menjadi lebih baik karena setiap hari yang ditonton, di sugesti adalah hal-hal yang positif.

Malam tadi saya nonton program DAAITV yang namanya “Refleksi” tentang seorang kepala sekolah sekaligus menjadi gurunya  SD Cikoneng Desa Cibalao, Cikoneng, Rawa Gede, Cisarua Bogor Jawa Barat Pak Rudi Manggala Saputra namanya. Dengan keterbatasan fisik yaitu kaki kanannya yang “pincang” kalau gak salah denger akibat kecelakan, namun hal tersebut tidak menghalangi semangat beliau mencapai visinya yaitu ” menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya ” begitu kata Pak Rudi yang saya ingat bener. Dan perlu dicatat sekolah ini adalah sekolah gratis yang kebanyakan anak2 muridnya adalah anak dari para petani teh maklum satu2nya sekolah di perkebunan teh tersebut hanya SD Cikoneng ini, sayangnya hanya SD saja. Jika ingin anak2 ingin melanjutkan ke SMP – SMA kebanyakan orang tua  murid petani teh tersebut tidak mampu untuk membiayai biaya sekolahnya.Selain itu anak2  juga harus turun dari perkebunan yang menempuh jarak yang lumayan jauh dari kampung mereka. Inilah yang sangat disayangkan oleh Pak Rudi, beliau pengen banget anak2 ini melanjutkan sekolah jika sudah lulus dari SD ini, jadi tidak bekerja sebagai petani teh ngikutin orang tuanya.

Terlihat dari membuka kunci pintu kelas, angkat2 meja,  benerin genteng yang rusak, semua dilakukan oleh beliau sendiri selain anak2 kelas juga membantu. Ada kata2 beliau yang juga saya inget :

” Saya adalah manusia pembawa tongkat yang Alhamdullilah bisa berguna bagi orang lain ”

Inspirasi lain yang saya tonton adalah ada salah satu anak murid yang terpaksa membawa adiknya yang baru berumur 1,5 tahun ke sekolah ” karena dirumah gak ada yang jagain Bapak/Ibu bekerja sebagai petani teh dengan terpaksa dia membawa adiknya ke sekolah, kalau adiknya nangis, laper, sementara kakaknya harus belajar atau sedang menulis yaa saya yang gendongin atau yang ngasih makan ” jelas Pak Rudi sambil senyum dengan penuh keikhlasan.

Salah satu scene terlihat murid yang membawa adiknya duduk bareng2 satu meja, kakaknya perhatiin Pak Rudi yang sedang mejelaskan pelajaran sementara adiknya bengong2 gak ngerti apa yang didenger, terkadang juga ngeliatin kakaknya yang duduk disebelahnya. Pikir saya satu sisi lucu, satu sisi miris, sedih, campur malu dengan diri sendiri, serta bersyukur dengan keadaan saya dan keluarga saat ini yang penuh dengan kemudahan dan kecukupan.

Ada juga scene pada saat Pak Rudi sedang mengasuh adiknya salah satu murid yang baru berumur 1,5 thn sedang ngasih minumin air putih namun bukan pake botol buat bayi melainkan pake plastik yang biasa buat es2-an.

Hal lain lagi yang membuat saya malu hati dan merasa belum belum berbuat apa2 yakni Pak Rudi juga berprofesi sebagai tukang parkir. Di waktu tertentu Pak Rudi turun dari perkebunan dengan mengendarai sepeda motor ! hah ??  sepeda motor ? kok bisa ? yaak ternyata beliau bisa ! dengan keterbatasan fisik Pak Rudi bisa naek motor sendiri.

“Tukang parkir adalah bukan pekerjaan yang hina, saya tidak malu dengan pekerjaan ini, Alhamdullilah dengan sampingan jadi tukang parkir saya bisa nambah2in biaya untuk anak2 disekolah ”

WOW !!

“Sampai saat ini saya masih sebagai guru PNS yang berstatus honorer, tidak apa2  saya mensyukuri atas keadaan saya saat ini untuk masalah rezeki saya serahkan kepada Allah. Alhamdullilah semuanya cukup ” jelas Pak Rudi.

Begitulah kisahnya yang menurut saya perlu disebarkan luaskan walau hanya melalui blog,  semoga bisa menginspirasi. Iseng coba googling eh ternyata ada beberapa yang meliput tentang Pak Rudi, berikut source gambar yang saya ambil dan linknya kalau ingin lebih mengenal sosok inspirasi Pak Rudi :

http://relawandesa.wordpress.com/2009/03/30/rudi-ms-guru-anak-anak-pemetik-teh/

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=433423388

http://www.kickandy.com/theshow/1/1/1411/read/GURUKU-PAHLAWANKU.html/40

http://ikhwanulfajri.multiply.com/journal/item/30

Walaupun pak Rudi bukan guruku waktu SD namun beliau secara tidak langsung telah menjadi guruku yang membantuku untuk lebih dalam mengenal arti dan makna hidup ini.

Udet

 

 

 

pak tua penjual amplop

Dapat broadcast dari temen via YM yaitu suatu kisah nyata yang sangat inspiratif dari salah satu blogger dan penting juga untuk di copy paste dengan harapan lebih banyak orang yang terinspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Silahkan di baca kisah yang sangat luar biasa ini.

Oleh: Rinaldi Munir

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusan plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih.

Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu.

“Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500.

“Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya.

Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata.

Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua. Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Sumber: http://www.rinaldimunir.wordpress.com

liat sepeda orang bagus saya sudah seneng mas..

Sore ini sehabis pulang gawe, saya gak sabar ngambil sepeda yang pagi tadi di taro di bengkel sepeda langganan dekat rumah untuk ganti jari2 ban yang baru. Sambil buru2 jalan kaki saking gak sabarnya ngeliat hasilnya, ada yang menarik pas saya sampai di bengkel dimana Pak Agus si yang punya bengkel ke gap gak sengaja lagi ngelap, molesin sepeda saya.

” Gimana Pak ” sapa saya,

” Eh mas, lagi molesin nih mas, hehe.” jawab Pak Agus

” wah sampe dilapin nih pak ” bales saya lagi

” Iya mas, kalau liat sepeda orang rapih, bagus saya sudah seneng mas ” jawab Pak Agus

Wedeehh..ini dia kunci kesuksesan usaha bengkel Pak Agus yang saat ini udah punya 2 toko sepeda + bengkel

Kuncinya adalah melakukan kebaikan/kepuasan yang tulus terhadap pelanggannya, terbukti Pak Agus ke “gap” sama saya lagi molesin sepeda saya tanpa sepengatuan saya, ini kan namanya tulus hehe..

Akibat kebaikan2 dia secara tulus dalam menjelaskan segala sesuatu perlu atau tidaknya dibeli,  ini masih bagus apa gak, barang mana yang bagus, mana yang kuwalitasnya kurang, beliau juga sharing mengenai tips, trik onderdil sepeda, cara aman gembok sepeda dll , yang  akhirnya saya betah di bengkel  dan ujungnya beli perintilan yg lain lagi hehe..

Mungkin inilah yang namanya spiritual bisnis dimana gak perlu baca buku, ikut seminar seminar bisnis. Yang perlu hanya dimulai bisnisnya sambil menempa mental dan pengalaman serta didasari dengan ketulusan dan kebaikan kepada pelanggan.

Semoga bermanfaat

udet

 

agar bertemu Allah dalam keadaan muslim

Abdullah bin Mas’ud berkata:
“Siapa yang senang untuk bertemu dengan Allah besok dalam keadaan muslim..
Hendaklah ia menjaga shalat ketika dikumandangkan adzan kepadanya..
Karena Allah telah mensyari’atkan kepada Nabimu sunnah sunnah hidayah..
Dan shalat itu termasuk sunnah hidayah..
Seandainya kamu shalat di rumahmu..
Sebagaimana orang itu shalat di rumahnya..
Berarti kamu telah meninggalkan ajaran Nabimu..
Jika kamu meninggalkan ajaran Nabimu..
Niscaya kamu akan sesat..
Tidak ada seorangpun yang berwudlu dan memperbagus wudlunya..
Kemudian pergi ke masjid..
Kecuali Allah akan menuliskan untuk setiap langkahnya sebuah kebaikan, mengangkat satu derajat, dan menggugurkan sebuah kesalahan..
Sungguh..
Kami dahulu menganggap orang yang tidak menghadiri jama’ah sebagai orang munafiq..
Sungguh..
Dahulu ada orang yang sedang sakit..
Dibopong oleh dua orang sampai di dirikan di shaff..

(HR Muslim no 654).