tahun baru 2014

Silaturahim dengan orang tua di Bekasi sambil mengantar istri yang kebetuan mendapatkan kerjaan di Summarecon Bekasi. Khosyi dan adeknya bermain dengan sepupu2nya dengan senang hati. Dilanjutkan menikmati sholat magrib di masjid bersama orang tua, saat pulang dari masjid memperlambat jalan menuju rumah dan coba menikmati suasana sekitar tanpa membawa gadget alias hp dikantong.

Dilanjutkan obrolan santai di ruang tamu bersama PapaMama mempelajari agama dengan mengutip beberapa ayat Al Quran diselingi gangguan anak2 yang sedang bermain berlarian dari ruang keluarga ke ruang tamu, mondar mandir.

Oke lanjut makan malam dengan keluarga dengan mencoba melahap dengan perlahan setiap makanan yang dimasukan ke mulut dan latian menikmatinya hingga menjadi kebiasaan. Duduk2 sambil menggendong anak yang sedang bermain gadgetku langsung dilanjutkan bermain kembang api didepan rumah.Tak terasa waktu sudah jam 11 malam dan anak2 sudah mulai ngantuk begitupun juga saya.

Sehabis bersih2, sikat gigi terlihat mata mereka sudah terlihat lelah, langsung saya bawa kekamar atas untuk tidur. Walaupun suara petasan di sekitar rumah makin berisik karena sudah jam 23.30, namun tak sampai jam 00.00 sehabis anak2 sudah terlelap tak lama kemudian sayapun ikut terlelap dan tidak merayakan pergantian tahun 2013 ke 2014 layaknya orang2 malam itu.

Yaa itulah memang saya sengaja tidak terlalu ikut euphoria malam tahun baru karena saya muslim, jadi ingin mencoba euphoria pada saat tahun baru Islam saja yaitu 1 Muharam. Dalam artian mencoba menjadi muslim yang lebih baik dari hari ke hari.

Namun bukan berarti  hari itu tidak spesial, justru special banget! banyak insight yang saya dapat ambil yaitu bagaimana menikmati hidup, mencoba memperlambat ritme hidup. Maklum sehari-hari di Jakarta yang penuh dengan digitalism, manusia di Jakarta kebanyakan menjadi Human Doing bukan Human Being.

Seperti apa Human Being? yaaa menurut saya contohnya seperti cerita saya diparagraf awal di atas, kurang lebihnya begitulah hehe..

@papiudet